Bukan Toko Buku Biasa

  • Maret 27, 2019

Di rak-raknya tersimpan bermacam ilmu pengetahuan, hiburan, budaya. Sementara gedungnya sendiri menyimpan sebuah sejarah kota. Toko buku Dominikaner di Maastricht dikunjungi orang bukan hanya koleksi buku-bukunya, melainkan sebagai salah satu destinasi wisata arsitektur. Kafe uniknya juga bisa jadi tempat nongkrong asyik. Tak heran, sebanyak 700.000 orang mengunjungi bangunan ini setiap tahunnya.

Dari Kandang Kuda Hingga Tempat Tinju

Gereja Dominikaner di Maastricht merupakan gereja gothik tertua di Belanda. Ia dibangun pada abad 13 masehi, dimulai tahun 1266, lalu menjadi sebuah gereja utuh pada tahun 1294. Gereja satu ini tak selalu berfungsi sebagai tempat ibadah. Tahun 1794, fungsinya sebagai rumah ibadah mulai terganggu. Ketika itu, tentara Napoleon dari Perancis merebut dan menggunakannya untuk tujuan militer.

Di abad ke-19, bangunan gereja ini sempat menjadi kandang kuda pasukan kavaleri. Bahkan menjadi tempat penyimpanan Guillotine, mesin pemenggal kepala manusia. Ada satu masa di mana bagian dalam gereja menjadi tempat penyelenggaraan pertandingan tinju. Atau menjadi garasi sepeda. Atau tempat pameran mobil. Pernah pula menjadi tempat perayaan karnaval anak-anak setiap tahunnya. Sungguh sejarah panjang dan penuh warna dari sebuah bangunan gereja.

Menjadi Sebuah Toko Buku

Sejak tahun 2006, bangunan gereja Dominikaner kembali beralih fungsi. Kali ini menjadi sebuah toko buku. Bukan toko buku biasa, melainkan salah satu toko buku terindah di dunia. Sebelum jadi sebuah toko buku, kondisi konstruksi bangunan ini sungguh menyedihkan. Namun alihfungsi menghadirkan napas baru bagi gereja Dominikaner. Biasanya alihfungsi sebuah rumah ibadah akan mengurangi kesakralannya.

Akan tetapi, kantor arsitek Merkx + Girod dari Belanda berhasil menyulap bagian dalam sebuah gereja menjadi toko buku unik dan menarik. Agar kapasitas buku yang dijual lebih besar, ditambahkan dua lantai mezanin di dalamnya sehingga luas lantai yang semua berkisar 750m2, bertambah menjadi sekitar 1.200 m2.

Toko Buku Cantik

Bangunan gereja Dominikaner berada di sebuah gang. Di sekitarnya berdiri kafe dan rumah makan yang bangku-bangkunya meluber hingga di jalan bagian depan gereja. Di hari hangat nan cerah, bangku-bangku tersebut bakal dipenuhi pelanggan. Gerbang masuk toko buku terbuat dari besi berkarat. Permukaannya bertuliskan buku dalam berbagai bahasa dunia. Selain dari gerbang tersebut, tak terlihat perubahan mencolok di bagian luar bangunan gereja. Bagian dalamnya agak temaram.

Mirip suasana katedralkatedral gothik lainnya di Eropa. Sumber penerangan di dalam berasal dari deretan lampu dan jendela tinggi dekat atap yang kacanya berhias lukisan. Masuk ke gereja, isinya seperti terbagi dua. Satu sisi dibiarkan seperti aslinya; lampu-lampu digantung dengan kabel panjang di antara busur-busur runcing di atap. Di bawah kubah utama di bagian tengah gereja, ditambahkan ruangan berangka baja hitam sebanyak 2 lantai. Tidak tepat di tengah-tengah, namun agak sedikit ke tepi kanan, sehingga dari lantai dasar, kita masih bisa menikmati lukisan-lukisan di atap ruang utama gereja, di antara busur-busur lengkungnya.

Begitu, masuk, kita akan melihat kasir di sebelah kiri. Pengunjung toko buku Dominikaner tak hanya pecinta buku, namun juga pecinta arsitektur atau mereka yang hanya ingin menyaksikan keelokannya. Tak jarang orang menenteng kamera dan memotret di sana-sini. Lantai dasar gereja tidak diganti seluruhnya. Di beberapa bagian, kita masih bisa melihat sisa-sisa pahatan dan huruf-huruf yang terpatri di lantai. Bentuknya persegi dan permukaannya mengilap.

Surga Pecinta Buku

Pecinta buku bisa memilih salah satu atau beberapa dari sekitar 25 ribu eksemplar. Rak-raknya tertata rapi di antara pilar-pilar batu gereja. Sebuah denah mengelompokkan buku-buku berdasarkan jenisnya. Buku yang dijual kebanyakan berbahasa Belanda, namun ada juga buku berbahasa Inggris. Di satu sisi lantai dasar, di side aisle, akan kita temukan buku-buku hobi seperti buku memasak, buku traveling, olah raga, alam, hingga roman dan novel-novel dalam bahasa Belanda serta Inggris.

Di rak panjang dipajang buku literatur, puisi, thriller serta cerita fantasi. Di sisi lainnya, berbaris bukubuku literatur, ilmu pengetahuan, manajemen, ekonomi, musik, fotografi , desain, sosiologi, kesehatan, seni, dan arsitektur. Rakrak buku ini dipasang di antara atau di sekeliling pilar-pilar besar gereja. Salah satu satu sudut yang menarik perhatian adalah stan khusus buku-buku anak dan remaja. Letaknya di sebelah ruang paduan suara.

Pojok khusus anak ini terlihat ceria. Berhias balonbalon, poster, gantungan warnawarni, dan mainan. Di satu pojok terdapat mobil-mobilan kayu penuh buku. Rak-rak buku di sini dipasang sesuai dengan bentuk ruangan yang membentuk setengah lingkaran. Tangga dekat pilar tengah membantu kita naik ke lantai berikutnya. Lift tersedia bagi mereka yang membutuhkan. Naik ke lantai satu dan dua, akan kita temui rak-rak buku panjang dari berbagai bidang ilmu.

Tak hanya buku baru, beberapa buku bekas juga ikut dipajang di rak. Tempat paling sepi berada di lantai dua. Sekaligus paling nyaman. Rak-rak bukunya rendah. Bangku pendek disediakan untuk mereka yang ingin berlama-lama mengeksplor aneka buku. Atap satu sisi side aisle dan jendela kaca terasa dekat. Lampu-lampu panjang mempercantik bagian ini. Dari sini, kita bisa mengamati fresko di atap secara lebih baik. Apik dan menarik.

Sebuah toko buku tentunya dilengkapi dengan genset agar membuat pembaca tetap bisa menikmati membaca buku meskipun sedang terjadi pemadaman listrik dari pusat. Harga genset silent 450 kva di Surabaya yang murah bisa dibeli dari distributor resmi genset Perkins.