Antisipasi Pelemahan Rupiah Lebih Dalam

Antisipasi Pelemahan Rupiah Lebih Dalam

  • Maret 29, 2019

Antisipasi Pelemahan Rupiah Lebih Dalam – Hasil The Federal Open Market Committee FOMC Meeting bakal menjadi perhatian utama pelaku pasar hari ini. Selain itu, dari dalam negeri, Bank Indonesia diperkirakan bakal merespons kebijakan moneter The Fed tersebut. Kondisi ini bakal berdampak signifikan pada pergerakan nilai tukar rupiah. Pelaku pasar meyakini The Fed akan menaikkan suku bunga. BI diprediksi akan merespons dengan kebijakan serupa. Lalu, bagaimana arah kurs rupiah selanjutnya?

Head of Economic & Research UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja mengatakan, mata uang Garuda masih akan bergerak dengan rentang lebar. “Sebab, sepanjang September ini saja, rupiah sanggup menguat ke bawah Rp 14.800 namun juga beberapa kali menyentuh resistance di atas Rp 14.900 per dollar AS,” jelas dia, Rabu (26/9).

Meskipun begitu, Enrico memandang volatilitas mata uang rupiah sekarang ini sudah lebih baik dan sejalan dengan pergerakan mata uang regional lainnya. Analis Monex Investindo Futures Faisyal menilai, BI memang perlu menaikkan suku bunga acuan, karena rupiah sudah semakin mendekati level psikologis Rp 15.000 per dollar AS. Jika pernyataan petinggi The Fed bernada hawkish, kenaikan suku bunga memang harus dilakukan agar nilai tukar tidak bergerak liar ke atas Rp 15.000. Hal ini dianggap bakal memberi sentimen negatif pada pasar keuangan dalam negeri.

Penyebab Dari Faktor Eksternal

Enrico juga menambahkan, rupiah juga masih tertekan sentimen dari dalam negeri, yakni struktur current account deficit (CAD). Akan tetapi, ia cukup meyakini semua kebijakan moneter dan fiskal yang dipilih pemerintah setidaknya dapat meredam volatilitas kurs.

Karena itu, Enrico memprediksi nilai tukar rupiah bakal berada di rentang Rp 14.890– Rp 15.000 per dollar AS akhir tahun nanti. Ferry Latuhihin, Senior Chief Economist PPA Kapital, punya pendapat berbeda. Ia memprediksi, nilai tukar rupiah sulit menguat ke bawah level Rp 15.000 per dollar AS di akhir tahun nanti. “Bahkan, terdapat indikasi rupiah bbakal overshooting ke level yang lebih tinggi yakni, Rp 15.500 per dollar AS,” ujar dia. Penyebabnya, faktor eksternal yang mendorong penguatan dollar AS ke depan masih lebih kuat dan sulit diatasi dengan kenaikan suku bunga semata.

Pertama, The Fed akan tetap konsisten dengan kebijakan pengetatan moneter sampai tahun depan. “The Fed mengatasi kebijakan fiskal Presiden Trump yang cenderung longgar sehingga harus terus menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi,” kata Ferry. Dengan demikian, nasib mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, masih di ambang pelemahan.

Kedua, perang dagang antara AS dan China masih terus berlanjut. Hal ini akan menciptakan ketidakpastian yang berkelanjutan terhadap perekonomian global. Namun, potensi rupiah mengalami penguatan dibawah Rp 15.000 juga terbuka lebar dalam jangka pendek ini. Tapi, Ferry meyakini kedua kondisi tersebut tidak bertahan lama sebab dalam jangka panjang ia lebih melihat ekuilibrium rupiah yang baru di posisi pada level Rp 15.000 per dollar AS.

Faisyal memperkirakan level nilai tukar rupiah masih tidak akan jauh dari rentang Rp 14.900-Rp 15.000 sampai akhir tahun. “Bahkan, terburuknya rupiah bisa sampai Rp 16.000, karena periode September-Desember banyak perusahaan membutuhkan dollar untuk pembayaran utang, maupun kebutuhan masyarakat menjelang libur akhir tahun,” ujar dia.

Dua Pendatang Baru Emiten Tunda Masuk IPO

Dua Pendatang Baru Emiten Tunda Masuk IPO

  • Maret 29, 2019

Dua Pendatang Baru Emiten Tunda Masuk IPO – Harapan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menggaet pendatang baru lebih banyak berpeluang meleset dari target. Sebab, sejumlah perusahaan memutuskan menunda pelaksanaan initial public offering (IPO). Silvano Rumantir, Direktur Utama Mandiri Sekuritas, mengatakan, paling tidak ada dua hingga tiga calon emiten yang menunda IPO. “Tadinya mau tahun ini, jadi tahun depan,” ujar dia, Rabu (26/9). Sayang, Silvano tidak bersedia merinci perusahaan mana saja yang urung IPO. Yang terang, dua perusahaan tersebut merupakan produsen cat dan pipa.

Menurut catatan media, produsen pipa yang sempat mengumumkan niat IPO adalah PT Wahana Duta Jaya Rucika. Sedang perusahaan cat ada PT Avia Avian. Rencana IPO kedua perusahaan ini memang beberapa kali tertunda. Sekadar informasi, Wahana Duta mengincar Rp 2,5 triliun dari IPO. Sedang Avian disebut-sebut mengincar dana segar lebih dari Rp 3 triliun. Silvano memastikan, IPO hanya ditunda, bukan batal. Rencana IPO kemungkinan ditunda hingga tahun depan setelah pemilu. “Keduanya memang punya alternatif pendanaan.

IPO tetap menjadi salah satu opsi, cuma kelihatannya belum saat ini,” jelas dia. William Surya Wijaya, Vice President Research Department Indosurya Bersinar Sekuritas, mengatakan, ada sejumlah faktor yang memang bisa membuat perusahaan memilih menunda IPO. Salah satunya adalah, momentum pasar. Bisa dibilang, ini merupakan faktor utama. “Momentum muncul saat ada euforia investor, saat pasar saham sedang naik-naiknya,” ujar William. Persepsi pasar juga bisa menjadi salah satu faktor pertimbangan.

Calon emiten bisa saja urung IPO ketika melihat kondisi makroekonomi sedang kurang menguntungkan iklim bisnis perusahaan. Sebab, hal itu akan mempengaruhi profil risiko perusahaan di mata para calon investor. Makin tinggi risikonya, maka peluang menetapkan harga tinggi dan memaksimalkan penyerapan saham baru pun mengecil. Baik Avian dan Wahana Duta bergerak di segmen manufaktur yang masih butuh banyak bahan baku impor. “Secara kinerja mereka melihat adanya pengaruh dari kurs, apakah ada utang luar negeri atau tidak,” cetus William.