Investasi Satelit Hanya Sekali

  • Juli 23, 2019

Tahun 1945, Arthur C. Clarke menuliskan idenya tentang sate lit komunikasi ke majalah Wireless World. Ide ini didapat nya sewaktu ia bertugas untuk mendengarkan komunikasi radio tentara Inggris pada Perang Dunia II dan menemukan– fenomena bahwa bulan terkadang memantulkan sinyal radio kembali ke bumi.

Dengan menempatkan satelit buatan ke orbit geostasioner bumi, Clarke meramalkan bahwa dibutuhkan hanya tiga satelit komunikasi dengan sudut cakupan 120° untuk mencakup komunikasi di seluruh permukaan bumi. Ide Clarke baru terwujud 20 tahun kemudian, ketika satelit Intelsat 1 diluncurkan ke orbit pada 6 April 1965 dan menjadi satelit komunikasi geostasioner pertama di dunia. Satelit vs terestrial Membuat satelit komunikasi dan menempatkannya di orbit geostasioner tidaklah murah.

Investasinya bahkan lebih mahal dibandingkan membangun jaringan terestrial. Namun satelit memiliki keunggulan dari sisi investasi dibandingkan jaringan terestrial yaitu hanya perlu sekali menanamkan modal untuk pembangunan satelit dan peluncurannya. Setelah itu, wilayah yang mampu dilayani satelit akan sangat luas. Belum tentu jaringan terestrial bisa dibangun dengan biaya yang sama atau lebih rendah untuk mencakup wilayah seluas jangkauan satelit komunikasi.

Satelit komunikasi konvensional seperti yang dibayangkan oleh Clarke mempunyai diameter area cakupan hingga ribuan kilometer. Namun seiring dengan perkembangan teknologi, satelit HTS (High Throughput Satellite), menggunakan teknologi spot beam dengan diameter area cakupan lebih sempit (sekitar 100 km), namun membuatnya bisa melakukan fokus terhadap sinyal radio satelit sehingga kapasitas kecepatan komunikasinya bisa sampai mencapai ratusan kali lipat.

Satelit ViaSat-1 misalnya, memiliki kapasitas 140 Gbps, jauh lebih tinggi daripada kombinasi kapasitas satelit konvensional yang disewa militer AS sewaktu melakukan invasi ke Irak yang cuma mencapai 88 Gbps. Satelit PSn Vi Bagaimana dengan kondisi di Indonesia sendiri? Hingga saat ini, penduduk yang bisa menikmati Internet kecepatan tinggi dengan harga terjangkau kebanyakan adalah penduduk yang tinggal di kota-kota besar. Sementara di kawasan Indonesia bagian timur, masih banyak base transceiver station (BTS) jaringan seluler yang membatasi kapasitas Internetnya hingga separuh kapasitas maksimalnya.

Saat ini, Pasifik Satelit Nusantara (PSN) bekerja sama dengan Boeing sedang membangun sebuah satelit HTS yang dinamakan PSN VI dengan cakupan wilayah Indonesia. Satelit PSN VI ini membantu memberikan jawaban terhadap kebutuhan Indonesia akan satelit jaringan komunikasi suara, data, Internet broadband, dan distribusi video di seluruh wilayah kepulauan Indonesia yang masih sulit dijangkau jaringan infrastruktur terestrial seperti fiber optic dan microwave link. Rencananya, satelit ini akan mengisi slot orbit 146°E yang dikelola PSN. Satelit ini ditargetkan akan meluncur pada pertengahan tahun 2016 dan diharapkan mulai beroperasi pada awal 2017.

Toni

E-mail : admin2@jcitunis.com